Sosbud / Rabu, 31 Maret 2010 13:24 WIB

 

Anda tentu pernah mendengar kisah Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati, Pocut Baren, atau Tengku Fakinah. Ya, mereka adalah pahlawan perempuan yang memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan di Serambi Mekah.

Perempuan Aceh dahulu memang dikenal dengan karakternya yang tangguh dan heroik. Dalam berjuang, mereka rela kehilangan harta bahkan keluarganya, tapi tak mau menyerah atas ketidakberdayaan. Karakter mereka tentu dapat dijadikan anutan, tak hanya untuk perempuan Aceh, tapi juga bagi perempuan Tanah Air. Terlebih pada zaman ini, saat perempuan Aceh bukan lagi berjuang melawan penjajah, melainkan keadaan mereka di Tanah Rencong pascakonflik dengan kelompok pemberontak.

Pergolakan yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam mungkin saja dapat dikatakan berakhir dengan adanya penandatangan Memorandum of Understanding antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinski, Finlandia, yang diperantarai oleh Marti Ahtisaari. Namun, nyatanya hingga kini dampak akibat konflik masih dirasakan para warga Aceh terutama kaum hawa dan anak-anak yang terpaksa kehilangan suami dan ayah sehingga yang menjadi tulang punggung keluarga.

Untuk itulah, dalam dialog antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar dan para pimpinan serta para tokoh perempuan dari enam kabupaten yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, dan Kota Sabulussalam di Takengon, Aceh Tengah, Senin (29/3), Wakil Gubernur Aceh Moh Nazar menekankan bahwa perempuan Aceh harus kembali kepada identitasnya yakni perempuan yang kuat dan tidak cengeng.

Nazar mengakui pascakonflik, memang banyak perempuan yang beralih menjadi tulang punggung keluarga karena mereka ditinggalkan oleh para suami dan ayah mereka. Namun, ia menegaskan para perempuan korban konflik janganlah terlalu lama larut dalam keadaan. Mereka harus bangkit dan menata kembali kehidupan mereka. Untuk itulah, Nazar meminta agar Kementerian PP dan PA dapat memberikan bantuan berupa pembinaan keterampilan bagi para perempuan Aceh agar mereka dapat menjadi perempuan yang mandiri dan produktif, termasuk juga para perempuan eks GAM.

Ia pun menjabarkan tiga modal yang dapat membuat perempuan Aceh maju yakni perdamaian, pelibatan perempuan dalam pembangunan, serta pelibatan anak-anak terutama para korban konflik.

Hal itu disetujui oleh Linda Amalia Sari yang ternyata juga memiliki darah Aceh karena sang ibu lahir di Kutaraja yang sekarang menjadi Banda Aceh. Begini-begini saya orang Aceh juga. Ibu saya lahir di Kutaraja, tuturnya. Karena keterikatan itulah Linda merasa harus membatu membangkitkan para perempuan Aceh dari keterpurukan agar mereka dapat terus maju dan mandiri.

Dampak konflik terhadap kaum perempuan internasional, aku Linda, memang tak hanya menjadi isu nasional, tapi juga internasional. Saya baru saja kembali dari pertemuan internasional mengenai perempuan dan anak korban konflik, Aceh termasuk dalam pembahasan tersebut, ujarnya. Untuk para perempuan yang menjadi korban di daerah konflik, khususnya di Takengon, Linda berharap agar mereka tidak lagi melihat ke belakang dan mulai memandang ke depan.

Perempuan Aceh itu sangat heroik. Semenjak dulu pun kita tahu banyak pahlawan perempuan yang berasal dari Aceh, seperti Laksamana Malahayati. Saya lihat sebenarnya perempuan Aceh heroik dan tangguh. Tentunya ini merupakan suatu modal bagi masyarakat di Aceh untuk bisa lebih maksimal lagi membaktikan dirinya bagi keluarga dan juga bagi lingkungan masyarakat, pungkasnya. (Pri/OL-08)

Check the video http://metrotvnews.com/index.php/metromain/newscat/sosbud/2010/03/31/14075/-Tiga-Modal-Kemajuan-Perempuan-Aceh