By: Republika Kontributor

Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama. Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan.

JAKARTA–Pahlawan nasional asal Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) bukan hanya jago dalam mengatur strategi perang melawan penjajah pada masanya, tapi juga cerdas di bidang agama Islam dan bahkan mampu menghafal Al-Quran. Kecerdasan perempuan yang diasingkan penjajah Belanda itu diakui Bupati Sumedang, Jawa Barat, Don Murdono, dalam pertemuan dengan peserta napak tilas seratus tahun meninggalnya Cut Nyak Dhien belum lama ini. Bupati mengatakan, Cut Nyak Dhien di masa hidupnya ikut memberi bimbingan ajaran agama Islam kepada masyarakat Sumedang. Menurut dia, perempuan asal Aceh itu juga cepat beradaptasi dengan lingkungan karena memiliki kecerdasan menghafal kitab suci Al-Quran. Kegiatannya sehari-sehari Ibu Perbu (ibu Ratu), demikian sebutan masyarakat Sumedang kepada Cut Nyak Dhien, dipergunakan untuk mengulang kaji ilmu agama dan membaca Al-Quran, meskipun penglihatannya tidak seperti saat terlibat langsung dalam peperangan.

Dalam usia yang hampir 60 tahun itu tetap mengaji serta mengajarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat yang datang bersilaturrahmi ke rumah tempat tinggalnya sekitar Masjid Agung Sumedang dan mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak sekitarnya.

“Jadi, kecerdasan Cut Nyak Dhien bukan hanya mengatur prajurit berperang melawan penjajah Belanda yang terjadi sekitar 1873, tetapi juga mahir di bidang agama,” kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Aceh Raihan Putry Ali Muhammad.

Ini patut menjadi teladan bagi perempuan Aceh sekarang. Kaum perempuan harus menguasai berbagai pengetahuan sejalan kemajuan, namun tetap cerdas di bidang agama Islam dan adat istiadat karena itu merupakan identitas masyarakat Aceh yang terkenal fanatik.

Kegiatan napak tilas dan ziarah ke makam Cut Nyak Dhien di Sumedang, Jabar, itu sebagai upaya menggali apa yang patut dan perlu diteladani kaum perempuan masa kini. Ternyata banyak hikmah yang dapat dipetik dari kegiatan ini, antara lain terkait kecerdasan Cut Nyak Dhien di bidang agama Islam.

“Ini sejalan dengan tujuan dilakukan napak tilas dan ziarah itu sendiri, ya untuk membangkitkan kembali semangat kaum perempuan Aceh di bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan,” kata Raihan Putry Ali Muhammad yang juga dosen IAINB Ar-Raniry Aceh itu.

Selain itu, kegiatan yang melibatkan sejumlah perempuan ini dimaksudkan untuk mempererat tali silaturrahmi antara masyarakat Aceh dengan masyarakat Sumedang yang sudah dilakukan pahlawan nasional seabad lalu, tepatnya sekitar Juli 1907 saat diasingkan ke Sumedang.

Dalam waktu relatif singkat, Cut Nyak Dhien bisa menjalin dan mempererat tali silaturrahim. Cut Nyak Dhien menjadi perekat dua kelompok masyarakat yang berbeda daerah tersebut.

Kaum perempuan daerah Aceh perlu mengambil iktibar positif sesuai kondisi seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien di masa hidupnya. Perempuan Aceh yang berjiwa Islami perlu mempersiapkan diri dan menyahuti perkembangan kemajuan teknologi informasi, katanya.

Semua yang mengikuti jejak Cut Nyak Dhien harus cerdas. Tidak ada suatu keturunan sukses tanpa pengetahuan dan kecerdasan, kata istri mantan Gubernur Aceh, Hj Marlinda Abdullah Puteh, yang ikut serta napak tilas dan ziarah yang dipimpin Darwati A Gani, istri Irwandi Yusuf itu.

Marlinda mengatakan, sosok Cut Nyak Dhien yang cerdas itu hendaknya menjadi teladan bagi perempuan Aceh. Kaum perempuan daerah Serambi Makkah perlu meniru pahlawan nasional yang dapat menjalin silaturrahmi melalui kemahiran bernuansa Islami, tambahnya.

“Saya kira, semua apa yang diperlihatkan Cut Nyak Dhien dapat dijadikan teladan dan diaplikasikan dalam kehidupan, baik di bidang agama Islam maupun sosial kemasyarakatan. Kecerdasan dalam pengetahuan agama justru dikagumi dan disegani masyarakat,” kata Marlinda.

Mustahil pengakuan datang tanpa kecerdasan di bidang tertentu. Oleh karena itu, agaknya program napak tilas yang pertama sekali dilakukan Pemerintah Aceh ini lahir dari akal pikiran cerdas, kata istri mantan Wakil Gubernur Aceh Meutia Azwar Abubakar.

Hubungan silaturrahim yang dirintis Cut Nyak Dhien antara dua kelompok masyarakat berbeda daerah itu kiranya dapat diaplikasikan dalam kehidupan masa kini. Perempuan daerah Aceh harus bersatu dan saling mendukung untuk mencapai suatu tujuan bersama, katanya.

Sudah waktunya pemikiran negatif yang mengarah pada pembunuhan karakter sesama diabaikan dalam kehidupan yang menuntut kecerdasan. Perempuan yang cerdas akan sirna kecerdasannya manakala mengaplikasikan sikap tak simpati terhadap sesama.

Kekompakan merupakan modal utama untuk mewujudkan kemitraan (gender) berkeadilan dalam kehidupan. Mustahil keinginan kemitraan dapat dicapai jika kaum perempuan tak saling mendukung dan memberi motivasi seperti dilakukan Cut Nyak Dhien seratus tahun silam.

Upaya menjaga kekompakan tidak sulit diwujudkan meski era globalisasi menghampiri berbagai suku bangsa di jagad raya ini. Berpikir kreatif dan cerdas dalam kehidupan tanpa pemikiran negatif melihat kesuksesan seseorang tentu salah satu syarat perwujudan kekompakan.

Kecerdasan bernuansa Islami seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien perlu diaplikasikan dalam kehidupan perempuan Aceh masa ini. Kecerdasan akan kurang bermakna manakala pemilknya tidak hati-hati mencermati perkembangan dan bisa keliru tanpa menyadari cerdas sirna.

Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama.

Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan. Agaknya sosok Cut Nyak Dhien yang mampu menjalin tali silaturrahmi dengan masyarakat Sumedang menjadi inspirasi perempuan Aceh kini.

Pahlawan nasional Cut Nyak Dhien kini telah tiada. Tidak sedikit teladan ditinggalkan dan perlu ditiru dan dikedepankan. Tidak keliru manakala kaum perempuan Aceh membiasakan kebenaran berdasarkan pemikiran cerdas dan jangan membenarkan kebiasaan dalam kehidupan. Ant/Saidulkarnain Ishak/ya

Ditulis dalam Profil